Sabtu, 08 Februari 2014

Sejarah Musik Zaman Kuno - Mesir



Sejarah Musik Zaman Kuno - Mesir



Apa yang kita ketahui tentang seni musik beserta alat-alat musik dari bangsa Mesir adalah berkat adanya monumen-monumen yang terdapat di negara tersebut.
Para musafir/penjelajah menemukan berbagai alat musik yang tertera pada prasasti-prasasti seperti harpa dalam bentuk dan ukuran yang berbeda, bermacam-macam jenis lira, gitar dan mandolin, seruling tunggal maupun ganda, paduan suara yang lengkap beserta para pengiring dengan alat musiknya.
Pada makam-makam yang megah tertulis pada dinding-dindingnya riwayat kehidupan rumah tangga bangsa Mesir dan dari situ terlihat bahwa seni musik ambil peranan besar dalam mengiringi kebaktian seperti tari-tarian, keluhan duka (ratapan) pada kematian dan juga jamuan-jamuan makan.
Naskah-naskah Mesir menyebutkan bahwa seniman mendapat tempat yang terhormat dalam istana-istana, sedangkan pemimpin paduan suara adalah orang-orang yang terpandang.
Semua peninggalan dari zaman silam itu menunjukkan bahwa seni musik memainkan peranan yang besar. Plato yang tinggal di negeri tersebut, mengatakan bahwa bangsa Mesir menganggap bahwa seni musik sebagai kesenian yang sudah tua dan menurut sejarah kenegaraan, berawal dari para raja-raja keturunan dewa-dewa yang berasal dari Dewa Seni yang bernama Isis.
Seni lukis, seni pahat maupun seni suara adalah karya seni luhur dan indah, yang semula dan selalu diatur dengan hukum-hukum keramat. Maka dari itu selama ribuan tahun tidak dimungkinkan adanya perubahan dalam arti yang jelek maupun yang baik.
Para remaja di negeri itu hanya diperkenankan akrab dengan sopan santun dan budi pekerti maupun dengan musik yang luhur saja.
Plato menganggap hal tersebut sangat berguna dan mengagumi bangsa Mesir bahwa mereka mampu menciptakan nyanyian yang mampu untuk mengendalikan dan menguasai hawa nafsu dan kecenderungan pada hal yang jahat.
Sebaliknya ia menyayangkan adanya hasil seni yang stereotyp dan hilangnya daya cipta yang sejati. Seniman-seniman di negeri itu dilarang menciptakan sesuatu yang menyimpang dari aturan-aturan yang ada, karenanya kesenian pada bangsa Mesir tidak ada jejak kemajuan yang dapat dirintis.

Herodotus mengatakan bahwa bangsa Mesir hanya boleh menyanyikan lagu-lagu negerinya saja sedang menyanyikan lagu-lagu dari bangsa lain tidak diperkenankan. Ia merasa heran bahwa di Mesir terdengar pula lagu Yunani dengan nama yang berbeda. Seperti lagu keluhan (ratapan) yang bernama Linos di Yunani, bernama Maneros di Mesir.
Ia mengatakan pula bahwa negeri Mesir antara lain mempunyai lagu-lagu yang cukup terkenal yang dinyanyikan pula di Phoenisia, Cyprus dan negeri lain, tetapi di lain negeri berjudul lain pula. Lagu tersebut mirip dengan lagu yang oleh orang Yunani disebut Linos. Orang merasa heran terhadap kesenian Mesir namun lebih mengherankan lagi darimana mereka memperoleh lagu Linos itu, karena bangsa Mesir telah menyanyikannya sejak dahulu kala. Linos dalam bahasa Mesir sama dengan Maneros dan menurut cerita orang, karena kematian anak tunggal Raja Mesir pertama dalam usia yang muda, maka perasaan dukacita itu dinyatakan dengan nyanyian duka (seperti Linos).
Apa yang disebut Linos oleh penduduk asli pada beberapa bangsa, muncul dengan beberapa nama lain seperti Maneros, Lityerses, Attis, Adonis. Ternyata nama itu sebagai personifikasi musim semi, ia bersifat sebagai lagu sesal (duka) karena musim semi umumnya pendek.
Sistem nada (tangga nada) dari bangsa Mesir tidak begitu terkenal, seperti aturan nada yang terdapat pada bangsa Cina dan India. Sejarah membuktikan bahwa lagu-lagu Mesir kuno memakai paling banyak hanya empat nada saja. Angka empat bagi mereka adalah angka keramat, maka kita dapat menganggap bahwa centrachord (empat dawai) itu adalah dasar dari seni musik mereka, namun hal ini baru dirumuskan oleh Pythagoras yang hidup 570-480 SM di Yunani.
Pythagoras adalah seorang filsuf dan matematikus Yunani pada abad VI SM, yang mencetuskan interval antara nada-nada pada suatu tangga nada.
Sampai sekarang di lembah sungai Nil masih terdengar lagu-lagu yang tersusun dari empat nada saja.
Sejauh mana Pythagoras mengembangkan bakat musiknya dari bangsa Mesir tidaklah begitu jelas. Namun menurut kenyataannya Pythagoras memperoleh dari bangsa Mesir cara menentukan tinggi rendah nada dengan alat yang disebut monochord.
Carsten Niebuhr mengatakan dalam ulasannya tentang Mesir antara lain bahwa pria dan wanitanya bila tidak membawa ketipung maka mereka membawakan irama lagunya dengan tepuk tangan. Kebiasaan yang sudah berabad-abad dan tertera pada monumen-monumen berlaku pada zaman dahulu hingga sekarang. Sudahlah biasa kalau mereka yang berolah musik menampilkan gerakan-gerakan yang beraneka ragam yang menyarankan bahwa irama musik Mesir adalah sangat rumit.
Perkembangan musik di Mesir berhubungan erat sekali dengan sejarah politik dari negeri itu. Lepsius menghitung bahwa pemerintahan dari Pharao yang pertama adalah sejak tahun 3892 SM. Pada tahun itu pula ditentukan Tujuh nada suci oleh para imam agung dan dinyanyikan oleh pria dan wanita di dalam kuil dan adalah nada yang sah menurut hukum. Ini adalah semata-mata nada vokal yang tidak boleh diiringi dengan alat musik apapun.
Pada prasati yang berasal dari dinasti ke-4 (kira-kira 2500 SM) tampaklah disamping paduan suara putri berdiri seorang pemetik harpa dan beberapa pria yang mengiringinya dengan pantomim. Lukisan ini dapat dilihat antara lain pada kuburan dari Imai, seorang imam dari kuil Ptah di Memphis.
Pada prasasti tersebut nampak juga seorang pemain harpa yang berlutut sambil memetik harpa besar berdawai delapan, dan berhadapan dengannya ada seorang dirigen musik yang mendengarkannya secara seksama dengan menempatkan kedua belah tangannya di belakang daun telinga. Ia memimpin 6 orang biduanita yang mengikuti/mengiringi irama lagu dengan bertepuk tangan. Di samping itu terdapat 3 orang pria yang menari dengan mengangkat kaki dan tangannya bersama-sama sedang pria yang keempat menari di muka mereka dengan tangan direntangkan ke atas dengan gerakan seperti mau memutar badan.
Pada pemain harpa, biduan/biduanita serta para penari kemudian dapat dibedakan dengan penjelasan huruf hyrogliph.
Pada makam seperti pada makam Gizeh tertera gambar, dua pemain harpa yang berlutut memainkan alat musik besar, sedang di depannya berjongkoklah beberapa biduanita yang tangannya dilekatkan di belakang daun telinga, tetapi di samping itu tertera pula gambar seorang peniup seruling.
Pada makam yang ketiga terdapat lukisan seorang pemain harpa yang mengiringi seorang yang meniup seruling melintang dan dua orang peniup seruling lurus.
Dari monumen ini maupun dari yang lain ternyata bahwa harpa dan seruling merupakan alat musik yang utama pada bangsa Mesir.
Harpa yang disebut Tebuni oleh orang Mesir, terdapat dalam beberapa bentuk.
Bentuk yang tertua terdapat pada makam raja dari dinasti yang ke empat. Bentuk tersebut merupakan sebuah batang berupa busur. Kemudian sedikit demi sedikit berubah, dengan memberi bentuk lain atau dengan memberi kayu sebagai pemberat di ujung bawah sebagai kaki sehingga tali busur di bagian tersebut dikaitkan lebih erat/mati, sedang di ujung atas dawai, dikaitkan dengan pengatur tegangan dawai sehingga tiap dawai mempunyai nada lain seperti aturan yang telah ditetapkan. Ini adalah bentuk dasar dari harpa-harpa di kemudian hari. Perbedaan yang utama antara harpa berpedal yang modern dan harpa kuno adalah bahwa pada harpa kuno tidak terdapat bingkai di muka dawai.
Pada dinasti yang ke-12, kaki harpa makin mantap dan kemudian menjadi ruang gema (resonator), dan pada akhirnya bentuk busur berubah menjadi bentuk bingkai segitiga.
Pada zaman Ramses III (1197-1165 SM) yang meletakan dasar pemerintahan pada dinasti ke-20, bentuk harpa mencapai titik perkembangannya yang tertinggi. Harpa ini berbentuk langsing dan menyeni seperti bentuknya yang sekarang, hanya saja ukurannya lebih besar yaitu setinggi 6 kaki, sedang jumlah dawainya ada yang 13, 18, 21 dan 26.
Bentuk kerangkanya sangat diperhatikan. Bagian-bagian yang pokok dihiasi dengan seksama dengan bertatahkan gading, emas, penyu, mutiara dan dihiasi pula dengan bentuk simbolis dari kepala Dewa/Dewi, sphinks dan binatang.
Umur harpa dapat diketahui dengan melihat sikap badan mereka saat memainkan harpa tersebut seperti yang tertera pada monumen-monumen atau gambar dinding. Pada kerajaan yang kuno, sikap para pemain harpa terlukis berlutut, dan pada kerajaan yang lebih baru terlukis berdiri tetapi pemain jenis harpa yang besar berdiri saja. Pada jenis harpa yang kecil dipanggul atau ada yang dijinjing, dalam kerajaan kuno maupun kerajaan yang lebih baru selalu dimainkan dengan sikap berdiri maupun berlutut. Pada waktu Mesir dijajah dan kesenian musik asli di kuil-kuil memudar, memudar pula ketenaran harpa. Bentuk harpa yang menyeni makin hilang dan akhirnya kembali ke bentuk semula. Harpa yang pada waktu itu dimainkan oleh para raja dan imam, sekarang sudah dimainkan oleh rakyat jelata. Ini kelihatan sekali pada lukisan di abad berikutnya bahwa pemain-pemain harpa semua wanita.

Kecuali harpa pada monumen-monumen Mesir terlukis pula dua alat musik berdawai yang lain yaitu Lyra-ialah sebuah alat musik yang kemudian ambil peranan besar dalam seni musik Yunani, dan sebuah alat musik lagi, sejenis Lute dengan lima dawai. Tetapi agaknya kedua alat tersebut bukan alat asli Mesir namun diperkirakan sewaktu pemerintahan dinasti ke-18, alat tersebut didatangkan dari Asia.
Tentang alat musik tiup, seruling adalah alat musik terkenal. Ada dua jenis seruling yaitu seruling tunggal dan seruling ganda. Pada batu nisan di makam Gizeh tidak kurang dari 8 macam lukisan pemain seruling dan kecuali lukisan harpa pada umumnya terdapat banyak lukisan seruling tunggal maupun ganda. Sejauh mana seruling Mesir ini kesamaannya dengan Aulos dari Yunani.
Pada bangsa Mesir dikatakan bahwa seruling yang lurus bernama Mam atau Mem dan seruling yang menyilang dinamakan Sebi. Seruling-seruling ganda adalah panjang berpipa kecil, kedua batang seruling lepas namun ditiup bersama dan dimainkan dengan tangan tersilang.
Pada monumen selalu terdapat gambar Terompet dengan bentuk yang sederhana. Alat ini selalu ditiup oleh pria saja dan dipergunakan sebagai sangkakala (tengara, signal). Alat musik yang dibunyikan dengan dipukul (perkusi) ada banyak sekali, seperti ketipung, pauken, tambur dan sebagainya. Alat yang bernama Sistrum yang di Mesir juga dikenal dengan nama Kemkem, sebetulnya tidak termasuk alat musik tetapi adalah semacam tanda giring-giring (krincingan, bel) untuk memberi tanda dalam upacara ibadat di dalam kuil-kuil.
Seandainya lagu yang dimainkan oleh para musisi yang terlukis pada monumen peninggalan kuno itu dapat didengar, maka orang pandai dan para seniman ulung akan bertanya-tanya apakah mereka juga mengenal ganda suara ataukah dimainkan dengan satu suara saja, tidak dapat ditentukan dengan pasti. Dalam keadaan seperti terlukis itu hanya dapat dikira-kira bahwa apa yang kini disebut harmoni tidak dikenal oleh mereka serta juga bangsa-bangsa kuno. Seandainya mereka mengenal ganda suara maka hanya terbatas pada interval-interval oktaf, kwint dan kwart.
Sewaktu bangsa Mesir jatuh dan menjadi propinsi Romawi, kebudayaan Mesir mengalir ke Roma, maka Dewa-Dewi Isis dan Osiris menjadi mode bagi mereka terutama pada wanita Roma. Kuil-kuil untuk memuja Isis didirikan dan dipahat pula patungnya.
Menjadi populer di Roma pula, untuk diadakan perarakan Serapis dengan berkeliling melalui jalan-jalan di kota Roma bersama menggemanya suara Sistra, seruling dan lagu-lagu keagamaan beserta nyanyian Mesir.
Tetapi hal ini tidak bisa bertahan lama dan lama-kelamaan memudar, bahkan di negeri Mesir sendiri rakyatnya hidup tertindas oleh bangsa Romawi dan dilanda perbudakan.
Menurut pengamatan seorang penulis Romawi, bangsa Mesir yang dulu penuh gairah hidup dan semangat, kini menjadi bangsa yang paling menyedihkan di antara bangsa-bangsa lain.
Lagu-lagu dan alat musik orang Ethiopia (negeri yang paling dekat dengan Mesir) pada umumnya tidaklah banyak berbeda.
Sejarah seni musik maupun alat musik pada bangsa-bangsa Assyria, Babylonia, Fenisia, Media dan Parsi tidak dapat dipastikan karena hanya sedikit saja yang diketahui bahkan ada yang sama sekali tidak diketahui orang.

Musik dari bangsa Assyria agaknya untuk meluhurkan kekuasaan raja-raja Assyria saja.
Pada bangsa Assyria terdapat pula bermacam-macam alat musik seperti harpa, symbalo, seruling ganda dan ketipung seperti yang terlukis pada monumen-monumen mereka. Dengan alat musik tersebut mereka menyongsong dan mengarak para pahlawan perang yang pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan. Hal yang sama dilakukan juga di Babylonia. Sejumlah besar alat musik serta orkestra yang lengkap mengiringi pesta.
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama ditulis bahwa musik itu adalah suatu tanda untuk memuja patung emas yang diletakan di lembah Dura, atas perintah Nebukadnesar yang bunyinya sebagai berikut :
"...dan para Penguasa (Heraut) berkata dengan suara lantang : rakyatmu turun-temurun memberi kesaksian, bila kalian mendengar suara sangkakala, seruling dan siter, sambukin, psalter maupun symfoni-symfoni dan mendengar segala permainan musik, rebahkanlah dirimu dan pujalah patung emas yang dibangun oleh sang Raja Nebukadnesar".
Naskah diatas menyebut juga dua alat musik Babilion yang  aneh yaitu Sambura dan Symphonica, symphonica ini menurun pada bangsa Yahudi.

1 komentar: