Minggu, 16 Februari 2014

Sejarah Perang Puputan Margarana



Sejarah Perang Puputan Margarana


         Latar belakang munculnya puputan Margarana sendiri bermula dari Perundingan Linggarjati. Pada tanggal 10 November 1946, Belanda melakukan perundingan linggarjati dengan pemerintah Indonesia. Salah satu isi dari perundingan Linggajati adalah Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Selanjutnya Belanda diharuskan sudah meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
Pada tanggal 2 dan 3 Maret 1949 Belanda mendaratkan pasukannya kurang lebih 2000 tentara di Bali yang diikuti oleh tokoh-tokoh yang memihak Belanda. Tujuan dari pendaratan Belanda ke Bali sendiri adalah untuk menegakkan berdirinya Negara Indonesia Timur. Pada waktu itu Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai yang menjabat sebagai Komandan Resiman Nusa Tenggara sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI, sehingga dia tidak mengetahui tentang pendaratan Belanda tersebut.
Di saat pasukan Belanda sudah berhasil mendarat di Bali, perkembangan politik di pusat Pemerintahan Republik Indonesia kurang menguntungkan akibat perundingan Linggajati, di mana pulau Bali tidak diakui sebagai bagian wilayah Republik Indonesia. Pada umumnya Rakyat Bali sendiri merasa kecewa terhadap isi perundingan tersebut karena mereka merasa berhak masuk menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Terlebih lagi ketika Belanda berusaha membujuk Letnan Kolonel I Gusti Ngurah Rai untuk diajak membentuk Negara Indonesia Timur. Untung saja ajakan tersebut ditolak dengan tegas oleh I Gusti Ngurah Rai, bahkan dijawab dengan perlawanan bersenjata Pada tanggal 18 November 1946. Pada saat itu I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya Ciung Wanara Berhasil memperoleh kemenangan dalam penyerbuan ke tangsi NICA di Tabanan.
Karena geram, kemudian Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya di Bali dan Lombok untuk menghadapi perlawanan I Gusti Ngurah Rai dan Rakyat Bali. Selain merasa geram terhadap kekalahan pada pertempuran pertama, ternyata pasukan  Belanda juga kesal karena adanya konsolidasi dan pemusatan pasukan Ngurah Rai  yang ditempatkan di Desa Adeng, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali. Setelah berhasil mengumpulkan pasukannya dari Bali dan Lombok, kemudian Belanda berusaha mencari pusat kedudukan pasukan Ciung Wanara.





Puncak Peristiwa
Pada tanggal 20 November 1946 I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya (Ciung Wanara), melakukan longmarch ke Gunung Agung, ujung timur Pulau Bali. Tetapi tiba-tiba di tengah perjalanan, pasukan ini dicegat oleh serdadu Belanda di Desa Marga, Tabanan, Bali.
Tak pelak, pertempuran sengit pun tidak dapat diindahkan. Sehingga sontak daerah Marga yang saat itu masih dikelilingi ladang jagung yang tenang, berubah menjadi pertempuran yang menggemparkan dan mendebarkan bagi warga sekitar. Bunyi letupan senjata tiba-tiba serentak mengepung ladang jagung di daerah perbukitan yang terletak sekitar 40 kilometer dari Denpasar itu.
Pasukan pemuda Ciung Wanara yang saat itu masih belum siap dengan persenjataannya, tidak terlalu terburu-buru menyerang serdadu Belanda. Mereka masih berfokus dengan pertahanannya dan menunggu komando dari I Gusti Ngoerah Rai untuk membalas serangan. Begitu tembakan tanda menyerang diletuskan, puluhan pemuda menyeruak dari ladang jagung dan membalas sergapan tentara Indische Civil Administration (NICA) bentukan Belanda. Dengan senjata rampasan, akhirnya Ciung Wanara berhasil memukul mundur serdadu Belanda.
Namun ternyata pertempuran belum usai. Kali ini serdadu Belanda yang sudah   terpancing emosi berubah menjadi semakin brutal. Kali ini, bukan hanya letupan senjata yang terdengar, namun NICA menggempur pasukan muda I Gusti Ngoerah Rai ini dengan bom dari pesawat udara. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi ladang pembantaian penuh asap dan darah.
Perang sampai habis atau puputan inilah yang kemudian mengakhiri hidup I Gusti Ngurah Rai. Peristiwa inilah yang kemudian dicatat sebagai peristiwa Puputan Margarana. Malam itu pada 20 November 1946 di Marga adalah sejarah penting tonggak perjuangan rakyat di Indonesia melawan kolonial Belanda demi Nusa dan Bangsa. (bb.com/wikipedia/berbagai sumber)

Sabtu, 08 Februari 2014

Sejarah Musik Zaman Kuno - Mesir



Sejarah Musik Zaman Kuno - Mesir



Apa yang kita ketahui tentang seni musik beserta alat-alat musik dari bangsa Mesir adalah berkat adanya monumen-monumen yang terdapat di negara tersebut.
Para musafir/penjelajah menemukan berbagai alat musik yang tertera pada prasasti-prasasti seperti harpa dalam bentuk dan ukuran yang berbeda, bermacam-macam jenis lira, gitar dan mandolin, seruling tunggal maupun ganda, paduan suara yang lengkap beserta para pengiring dengan alat musiknya.
Pada makam-makam yang megah tertulis pada dinding-dindingnya riwayat kehidupan rumah tangga bangsa Mesir dan dari situ terlihat bahwa seni musik ambil peranan besar dalam mengiringi kebaktian seperti tari-tarian, keluhan duka (ratapan) pada kematian dan juga jamuan-jamuan makan.
Naskah-naskah Mesir menyebutkan bahwa seniman mendapat tempat yang terhormat dalam istana-istana, sedangkan pemimpin paduan suara adalah orang-orang yang terpandang.
Semua peninggalan dari zaman silam itu menunjukkan bahwa seni musik memainkan peranan yang besar. Plato yang tinggal di negeri tersebut, mengatakan bahwa bangsa Mesir menganggap bahwa seni musik sebagai kesenian yang sudah tua dan menurut sejarah kenegaraan, berawal dari para raja-raja keturunan dewa-dewa yang berasal dari Dewa Seni yang bernama Isis.
Seni lukis, seni pahat maupun seni suara adalah karya seni luhur dan indah, yang semula dan selalu diatur dengan hukum-hukum keramat. Maka dari itu selama ribuan tahun tidak dimungkinkan adanya perubahan dalam arti yang jelek maupun yang baik.
Para remaja di negeri itu hanya diperkenankan akrab dengan sopan santun dan budi pekerti maupun dengan musik yang luhur saja.
Plato menganggap hal tersebut sangat berguna dan mengagumi bangsa Mesir bahwa mereka mampu menciptakan nyanyian yang mampu untuk mengendalikan dan menguasai hawa nafsu dan kecenderungan pada hal yang jahat.
Sebaliknya ia menyayangkan adanya hasil seni yang stereotyp dan hilangnya daya cipta yang sejati. Seniman-seniman di negeri itu dilarang menciptakan sesuatu yang menyimpang dari aturan-aturan yang ada, karenanya kesenian pada bangsa Mesir tidak ada jejak kemajuan yang dapat dirintis.

Herodotus mengatakan bahwa bangsa Mesir hanya boleh menyanyikan lagu-lagu negerinya saja sedang menyanyikan lagu-lagu dari bangsa lain tidak diperkenankan. Ia merasa heran bahwa di Mesir terdengar pula lagu Yunani dengan nama yang berbeda. Seperti lagu keluhan (ratapan) yang bernama Linos di Yunani, bernama Maneros di Mesir.
Ia mengatakan pula bahwa negeri Mesir antara lain mempunyai lagu-lagu yang cukup terkenal yang dinyanyikan pula di Phoenisia, Cyprus dan negeri lain, tetapi di lain negeri berjudul lain pula. Lagu tersebut mirip dengan lagu yang oleh orang Yunani disebut Linos. Orang merasa heran terhadap kesenian Mesir namun lebih mengherankan lagi darimana mereka memperoleh lagu Linos itu, karena bangsa Mesir telah menyanyikannya sejak dahulu kala. Linos dalam bahasa Mesir sama dengan Maneros dan menurut cerita orang, karena kematian anak tunggal Raja Mesir pertama dalam usia yang muda, maka perasaan dukacita itu dinyatakan dengan nyanyian duka (seperti Linos).
Apa yang disebut Linos oleh penduduk asli pada beberapa bangsa, muncul dengan beberapa nama lain seperti Maneros, Lityerses, Attis, Adonis. Ternyata nama itu sebagai personifikasi musim semi, ia bersifat sebagai lagu sesal (duka) karena musim semi umumnya pendek.
Sistem nada (tangga nada) dari bangsa Mesir tidak begitu terkenal, seperti aturan nada yang terdapat pada bangsa Cina dan India. Sejarah membuktikan bahwa lagu-lagu Mesir kuno memakai paling banyak hanya empat nada saja. Angka empat bagi mereka adalah angka keramat, maka kita dapat menganggap bahwa centrachord (empat dawai) itu adalah dasar dari seni musik mereka, namun hal ini baru dirumuskan oleh Pythagoras yang hidup 570-480 SM di Yunani.
Pythagoras adalah seorang filsuf dan matematikus Yunani pada abad VI SM, yang mencetuskan interval antara nada-nada pada suatu tangga nada.
Sampai sekarang di lembah sungai Nil masih terdengar lagu-lagu yang tersusun dari empat nada saja.
Sejauh mana Pythagoras mengembangkan bakat musiknya dari bangsa Mesir tidaklah begitu jelas. Namun menurut kenyataannya Pythagoras memperoleh dari bangsa Mesir cara menentukan tinggi rendah nada dengan alat yang disebut monochord.
Carsten Niebuhr mengatakan dalam ulasannya tentang Mesir antara lain bahwa pria dan wanitanya bila tidak membawa ketipung maka mereka membawakan irama lagunya dengan tepuk tangan. Kebiasaan yang sudah berabad-abad dan tertera pada monumen-monumen berlaku pada zaman dahulu hingga sekarang. Sudahlah biasa kalau mereka yang berolah musik menampilkan gerakan-gerakan yang beraneka ragam yang menyarankan bahwa irama musik Mesir adalah sangat rumit.
Perkembangan musik di Mesir berhubungan erat sekali dengan sejarah politik dari negeri itu. Lepsius menghitung bahwa pemerintahan dari Pharao yang pertama adalah sejak tahun 3892 SM. Pada tahun itu pula ditentukan Tujuh nada suci oleh para imam agung dan dinyanyikan oleh pria dan wanita di dalam kuil dan adalah nada yang sah menurut hukum. Ini adalah semata-mata nada vokal yang tidak boleh diiringi dengan alat musik apapun.
Pada prasati yang berasal dari dinasti ke-4 (kira-kira 2500 SM) tampaklah disamping paduan suara putri berdiri seorang pemetik harpa dan beberapa pria yang mengiringinya dengan pantomim. Lukisan ini dapat dilihat antara lain pada kuburan dari Imai, seorang imam dari kuil Ptah di Memphis.
Pada prasasti tersebut nampak juga seorang pemain harpa yang berlutut sambil memetik harpa besar berdawai delapan, dan berhadapan dengannya ada seorang dirigen musik yang mendengarkannya secara seksama dengan menempatkan kedua belah tangannya di belakang daun telinga. Ia memimpin 6 orang biduanita yang mengikuti/mengiringi irama lagu dengan bertepuk tangan. Di samping itu terdapat 3 orang pria yang menari dengan mengangkat kaki dan tangannya bersama-sama sedang pria yang keempat menari di muka mereka dengan tangan direntangkan ke atas dengan gerakan seperti mau memutar badan.
Pada pemain harpa, biduan/biduanita serta para penari kemudian dapat dibedakan dengan penjelasan huruf hyrogliph.
Pada makam seperti pada makam Gizeh tertera gambar, dua pemain harpa yang berlutut memainkan alat musik besar, sedang di depannya berjongkoklah beberapa biduanita yang tangannya dilekatkan di belakang daun telinga, tetapi di samping itu tertera pula gambar seorang peniup seruling.
Pada makam yang ketiga terdapat lukisan seorang pemain harpa yang mengiringi seorang yang meniup seruling melintang dan dua orang peniup seruling lurus.
Dari monumen ini maupun dari yang lain ternyata bahwa harpa dan seruling merupakan alat musik yang utama pada bangsa Mesir.
Harpa yang disebut Tebuni oleh orang Mesir, terdapat dalam beberapa bentuk.
Bentuk yang tertua terdapat pada makam raja dari dinasti yang ke empat. Bentuk tersebut merupakan sebuah batang berupa busur. Kemudian sedikit demi sedikit berubah, dengan memberi bentuk lain atau dengan memberi kayu sebagai pemberat di ujung bawah sebagai kaki sehingga tali busur di bagian tersebut dikaitkan lebih erat/mati, sedang di ujung atas dawai, dikaitkan dengan pengatur tegangan dawai sehingga tiap dawai mempunyai nada lain seperti aturan yang telah ditetapkan. Ini adalah bentuk dasar dari harpa-harpa di kemudian hari. Perbedaan yang utama antara harpa berpedal yang modern dan harpa kuno adalah bahwa pada harpa kuno tidak terdapat bingkai di muka dawai.
Pada dinasti yang ke-12, kaki harpa makin mantap dan kemudian menjadi ruang gema (resonator), dan pada akhirnya bentuk busur berubah menjadi bentuk bingkai segitiga.
Pada zaman Ramses III (1197-1165 SM) yang meletakan dasar pemerintahan pada dinasti ke-20, bentuk harpa mencapai titik perkembangannya yang tertinggi. Harpa ini berbentuk langsing dan menyeni seperti bentuknya yang sekarang, hanya saja ukurannya lebih besar yaitu setinggi 6 kaki, sedang jumlah dawainya ada yang 13, 18, 21 dan 26.
Bentuk kerangkanya sangat diperhatikan. Bagian-bagian yang pokok dihiasi dengan seksama dengan bertatahkan gading, emas, penyu, mutiara dan dihiasi pula dengan bentuk simbolis dari kepala Dewa/Dewi, sphinks dan binatang.
Umur harpa dapat diketahui dengan melihat sikap badan mereka saat memainkan harpa tersebut seperti yang tertera pada monumen-monumen atau gambar dinding. Pada kerajaan yang kuno, sikap para pemain harpa terlukis berlutut, dan pada kerajaan yang lebih baru terlukis berdiri tetapi pemain jenis harpa yang besar berdiri saja. Pada jenis harpa yang kecil dipanggul atau ada yang dijinjing, dalam kerajaan kuno maupun kerajaan yang lebih baru selalu dimainkan dengan sikap berdiri maupun berlutut. Pada waktu Mesir dijajah dan kesenian musik asli di kuil-kuil memudar, memudar pula ketenaran harpa. Bentuk harpa yang menyeni makin hilang dan akhirnya kembali ke bentuk semula. Harpa yang pada waktu itu dimainkan oleh para raja dan imam, sekarang sudah dimainkan oleh rakyat jelata. Ini kelihatan sekali pada lukisan di abad berikutnya bahwa pemain-pemain harpa semua wanita.

Kecuali harpa pada monumen-monumen Mesir terlukis pula dua alat musik berdawai yang lain yaitu Lyra-ialah sebuah alat musik yang kemudian ambil peranan besar dalam seni musik Yunani, dan sebuah alat musik lagi, sejenis Lute dengan lima dawai. Tetapi agaknya kedua alat tersebut bukan alat asli Mesir namun diperkirakan sewaktu pemerintahan dinasti ke-18, alat tersebut didatangkan dari Asia.
Tentang alat musik tiup, seruling adalah alat musik terkenal. Ada dua jenis seruling yaitu seruling tunggal dan seruling ganda. Pada batu nisan di makam Gizeh tidak kurang dari 8 macam lukisan pemain seruling dan kecuali lukisan harpa pada umumnya terdapat banyak lukisan seruling tunggal maupun ganda. Sejauh mana seruling Mesir ini kesamaannya dengan Aulos dari Yunani.
Pada bangsa Mesir dikatakan bahwa seruling yang lurus bernama Mam atau Mem dan seruling yang menyilang dinamakan Sebi. Seruling-seruling ganda adalah panjang berpipa kecil, kedua batang seruling lepas namun ditiup bersama dan dimainkan dengan tangan tersilang.
Pada monumen selalu terdapat gambar Terompet dengan bentuk yang sederhana. Alat ini selalu ditiup oleh pria saja dan dipergunakan sebagai sangkakala (tengara, signal). Alat musik yang dibunyikan dengan dipukul (perkusi) ada banyak sekali, seperti ketipung, pauken, tambur dan sebagainya. Alat yang bernama Sistrum yang di Mesir juga dikenal dengan nama Kemkem, sebetulnya tidak termasuk alat musik tetapi adalah semacam tanda giring-giring (krincingan, bel) untuk memberi tanda dalam upacara ibadat di dalam kuil-kuil.
Seandainya lagu yang dimainkan oleh para musisi yang terlukis pada monumen peninggalan kuno itu dapat didengar, maka orang pandai dan para seniman ulung akan bertanya-tanya apakah mereka juga mengenal ganda suara ataukah dimainkan dengan satu suara saja, tidak dapat ditentukan dengan pasti. Dalam keadaan seperti terlukis itu hanya dapat dikira-kira bahwa apa yang kini disebut harmoni tidak dikenal oleh mereka serta juga bangsa-bangsa kuno. Seandainya mereka mengenal ganda suara maka hanya terbatas pada interval-interval oktaf, kwint dan kwart.
Sewaktu bangsa Mesir jatuh dan menjadi propinsi Romawi, kebudayaan Mesir mengalir ke Roma, maka Dewa-Dewi Isis dan Osiris menjadi mode bagi mereka terutama pada wanita Roma. Kuil-kuil untuk memuja Isis didirikan dan dipahat pula patungnya.
Menjadi populer di Roma pula, untuk diadakan perarakan Serapis dengan berkeliling melalui jalan-jalan di kota Roma bersama menggemanya suara Sistra, seruling dan lagu-lagu keagamaan beserta nyanyian Mesir.
Tetapi hal ini tidak bisa bertahan lama dan lama-kelamaan memudar, bahkan di negeri Mesir sendiri rakyatnya hidup tertindas oleh bangsa Romawi dan dilanda perbudakan.
Menurut pengamatan seorang penulis Romawi, bangsa Mesir yang dulu penuh gairah hidup dan semangat, kini menjadi bangsa yang paling menyedihkan di antara bangsa-bangsa lain.
Lagu-lagu dan alat musik orang Ethiopia (negeri yang paling dekat dengan Mesir) pada umumnya tidaklah banyak berbeda.
Sejarah seni musik maupun alat musik pada bangsa-bangsa Assyria, Babylonia, Fenisia, Media dan Parsi tidak dapat dipastikan karena hanya sedikit saja yang diketahui bahkan ada yang sama sekali tidak diketahui orang.

Musik dari bangsa Assyria agaknya untuk meluhurkan kekuasaan raja-raja Assyria saja.
Pada bangsa Assyria terdapat pula bermacam-macam alat musik seperti harpa, symbalo, seruling ganda dan ketipung seperti yang terlukis pada monumen-monumen mereka. Dengan alat musik tersebut mereka menyongsong dan mengarak para pahlawan perang yang pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan. Hal yang sama dilakukan juga di Babylonia. Sejumlah besar alat musik serta orkestra yang lengkap mengiringi pesta.
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama ditulis bahwa musik itu adalah suatu tanda untuk memuja patung emas yang diletakan di lembah Dura, atas perintah Nebukadnesar yang bunyinya sebagai berikut :
"...dan para Penguasa (Heraut) berkata dengan suara lantang : rakyatmu turun-temurun memberi kesaksian, bila kalian mendengar suara sangkakala, seruling dan siter, sambukin, psalter maupun symfoni-symfoni dan mendengar segala permainan musik, rebahkanlah dirimu dan pujalah patung emas yang dibangun oleh sang Raja Nebukadnesar".
Naskah diatas menyebut juga dua alat musik Babilion yang  aneh yaitu Sambura dan Symphonica, symphonica ini menurun pada bangsa Yahudi.

Sabtu, 01 Februari 2014

100 Nama Ilmiah Hewan Dan Tumbuhan



Berikut 100 Nama Ilmiah Hewan Dan Tumbuhan Yang Saya Ambil Dari Beberapa Sumber:

 100 Nama Ilmiah Hewan

1. Sus scrofa : Babi liar di Eropa

2. Choeropsis liberiensis : Kuda Nil pigmi Afrika

3. Rhinocheros sondaicus : Badak ujung kulon

4. Cepra aegrasus : Kambing

5. Bos sondaicus : Banteng

6. Bos indicus : Sapi india

7. Canis lupus : Serigala eropa

8. Helarctos malayanus : Beruang madu

9. Felis leo : Macan afrika

10. Panthera tigris : Macan asia

11. Delphinus delphis : Lumba-lumba

12. Berardius bairdii : Paus berparuh raksasa

13. Nasalis larvatus : Bekantan kalimantan

14. Sympalangus syndactylus : Gibon/siamang

15. Pteropus sp : Kalong

16. Eptecicus sp : Kelelawar coklat

17. Marcopus cangaroo : kanguru australia

18. Thylogale bruijni : Kanguru irian

19. Ornithorhynchus anatinus : Platipus

20. Cygnus sp : Angsa

21. Dendrocigna javanica : Belibis

22. Leucopsar rothschildi : Jalak

23. Gracula religiosa : Beo

24. Paradisiea apoda : Cendrawasih

25. Pycnonotus aurigaster : Ketilang

26. Geopelia striata : Perkutut

27. Streptopelia chinensis : Tekukur

28. Columba livia : Merpati

29. Gallus gallus banleiva : Ayam hutan

30. Meghacephalon maleo : Maleo sulawesi utara

31. Meleagris gallopavo : Ayam turki

32. Struthio camelus : Burung unta

33. Crocodylus americanus : Buaya

34. Alligator sp : Buaya

35. Mabouya multifasciata : Kadal

36. Chameleon chameleon : Bunglon

37. Varamus komodoensis : Komodo

38. Lampropeltis bovlii : Ular belang

39. Naya tripudont : Ular kobra

40. Python molurus : Ular sawah

41. Sphenodon punctatum : Tuatara

42. Chelonia mydas : Penyu hijau

43. Chelonia imbricata : Penyu besar

44. Rana sp : Katak

45. Polypedates leucomystax : Katak pohon

46. Bufo marinus : Katak besar

47. Cryptobranchus : Salamander di sungai

48. Hynobius : Salamander daratan asia

49. Hippocampus kuda : Kuda laut

50. Clarias batrachus : Ikan lele

51. Cyprinus carpio : Ikan mas

52. Chanos chanos : Ikan bandeng

53. Channa striata : Ikan gabus

54. Osphronemus gouramy : Gurami

55. Oreochromis mossambicus : Ikan mujair

56. Lutjanus argentimaculatus : Ikan kakap merah

57. Spyrna tudes : Hiu martil

58. Dasyatis sabina : Ikan pari

59. Squalus achantias : Hiu berkepala anjing

60. Bubalus quarlesi : Anoa

61. Euplectella : Pena laut

62. Physalia pelagica : Ubur-ubur api

63. Aurelia aurita : Ubur-ubur

64. Metridium marginatum : Mawar laut

65. Tubifora musica : Karang suling

66. Fasciola hepatica : Cacing hati

67. Taenia saginata : Cacing pita

68. Ascarisa lumbricoides : Cacing perut manusia

69. Enterobius vermicularis : Cacing kremi

70. Loa loa : Cacing mata pada manusia

71. Lumbriscus terrestris : Cacing tanah di eropa

72. Tubifex sp : Cacing air tawar

73. Hirudo medicinalis : Lintah air tawar

74. Haemadipsa javanica : Pacet di darat

75. Achatina fulica : Bekicot

76. Limnea javanica : Siput air tawar

77. Loligo pealii : Cumi-cumi

78. Sepia oficinalis : Sotong

79. Octopus vulgaris : Gurita

80. Octopus bairdii : Gurita merah

81. Pinctada margaritifera : Tiram mutiara

82. Pepanus sp : Udang windu

83. Panulirus argus : Lobster/udang besar

84. Portunus sexdentatus : Kepiting

85. Birgus latro : Ketam kenari

86. Paratelphusa maculata : Yuyu

87. Heteropoda venatoria : Laba-laba pemburu

88. Loxosceles reclusa : Laba-laba beracun

89. Lepisma : Kutu buku

90. Archotermopsis : Rayap/laron

91. Anax imperator : Sibar-sibar raja

92. Cimex : Kutu busuk

93. Leptocorisa acuta : Walang sangit

94. Drosophila melanogaster : Lalat buah

95. Periplaneta americana : Kecoak

96. Acheta domestica : Jengkrik

97. Musca domestica : Lalat rumah

98. Pteroptyx malacca : Kunang-kunang

99. Monomorium monomorium : Semut

100. Apis indica : Lebah madu






100 Nama Ilmiah Tumbuhan

1. Pinus mercusii : Pinus

2. Gnetum gnemon : Belinjo

3. Casuarina equisetifolia : Cemara

4. Ficus benjamina : Beringin

5. Artocarpus integra : Nangka

6. Artocarpus communis : Sukun

7. Artocarpus champeden : Cempedak

8. Piper nigrum : Lada

9. Piper betle : Sirih

10. Ricinus communis : Jarak

11. Cananga odorata : Kenanga

12. Annona muricata : Sirsak

13. Annona squamosa : Srikaya

14. Nymphaea lotus : Teratai

15. Nelumbo nucifera : Lotus

16. Raflesia arnoldi : Bunga bangkai

17. Bryophyllum crenata : Cocor bebek

18. Rosa damascena : Mawar

19. Pyrus malus : Apel

20. Pyrus communis : Pir

21. Prunus americana : Abricos

22. Prunus cerasus : Ceri

23. Fragaria vesca : Arbei

24. Mimosa pudica : Putri malu

25. Leucaena glauca : Lamtoro

26. Pitcellobium lobatum : Jengkol

27. Soja max : Kedelai

28. Phaseolus radiatus : Kacang hijau

29. Phaseolus vulgaris : Buncis

30. Pisum sativum : Kapri

31. Myrtus communis : Penghasil mirtol

32. Eugenia aromatica : Cengkeh

33. Eugenia malacensis : Jambu air.

34. Psidium guajava : Jambu biji

35. Carica papaya : Pepaya

36. Camellia sinensis : The cina

37. Ceiba pentandra : Kapuk randu

38. Durio zibethinus : Durian

39. Gossypium herbaceum : Kapas

40. Hibiscus tiliaceus :Waru

41. Hibiscus rosa-sinensis : Kembang sepatu

42. Averrhoe carambola : Belimbing linger

43. Averrhoe bilimbi : Belimbing wuluh

44. Cucurbita muschata : Waluh

45. Lagenaria leuchanta : Labu air

46. Luffa acutangula : Ceme,oyong

47. Citrullus sativus : Semangka

48. Citrus sp : Jeruk

49. Solanum tuberosum : Kentang

50. Solanum melongena : Terung

51. Capsicum annuum : Cabai

52. Ipomea batatas : Ketela rambat

53. Ipomea reptans : Kangkung

54. Coleus tuberosum : Kentang hitam

55. Ocimum basilicum : Kemangi

56. Hydrilla verticillata : Tumbuhan kolam

57. Ananas sativus : Nanas

58. Allium ascalonicum : Bawang merah

59. Allium sativum : Bawang putih

60. Aloe vera : Lidah buaya

61. Pleomele angustifolia : Daun suji

62. Cyperus rotundus : Rumput teki

63. Cumbopogon nardus : Sereh

64. Saccharum oficinarum : Tebu

65. Oryza sativa : Padi

66. Triticum aestivum : Gandum

67. Zea mays : Jagung

68. Musa paradisiaca : Pisang

69. Alpinia galaga : Laos

70. Curcuma domestica : Kunyit

71. Zingiber oficinale : Jahe

72. Canna indica : Bunga tasbih

73. Dendrobium crumenatum : Anggrek merpati

74. Phalaenopsis amabilis : Anggrek bulan

75. Areca catechu : Pinang

76. Arenga pinnata : Aren

77. Cocos nucifera : Kelapa

78. Elaeis guinensis : Kelapa sawit

79. Phoenix dactilyfera : Kurma

80. Anthurium crystallinum : Kuping gajah

81. Colocasia esculenta : Keladi/talas

82. Bromelia pingiun : Penghasil serabut

83. Mimosa invisa : Putri kejut

84. Codieum variegatum : Puring

85. Hevea brasiliensis : Penghasil karet

86. Sauropus androgynus : Katu

87. Ficus religiosa : Pohon bodi

88. Ficus glomerata : Pohon lo

89. Castiloa elastica : Penghasil karet

90. Casuarina junghuhniana : Cemara

91. Pinus silvestris : Pinus

92. Equisetum debile : Paku ekor kuda

93. Selaginella wildenowii : Paku rane

94. Lycopodium clavatum : Paku kawat

95. Marsilea crenata : Paku semanggi

96. Alsophila glauca : Paku tiang

97. Asplenium nidus : Paku sarang burung

98. Adiantum cuneatum : Suplir

99. Salvinia natans : Paku sampan

100. Platycerium bifurcatum : Paku tanduk rusa